Mengapa Kegigihan Dapat Menyelesaikan Masalah Sulit?

0
682
Mengapa Orang Yang Gigih Dapat Menyelesaikan Masalah Sulit - ©leapfrog.com
Mengapa Orang Yang Gigih Dapat Menyelesaikan Masalah Sulit - ©leapfrog.com

Nongki.net – Bila seseorang melakukan upaya yang sama berulang-ulang dan ia mengharapkan hasil yang berbeda maka upaya tersebut akan disebut sebagai suatu kegigihan.

Apa yang dilakukan seseorang ketika ia menghadapi suatu masalah yang sulit kiranya tidak jauh berbeda dengan sebuah kegilaan. Saat ia terus mencoba berkali-kali menyelesaikan suatu masalah dan ketika ia tidak juga menyerah saat ia menghadapi kegagalan. Mungkin nampaknya itu seperti sebuah kegigihan yang gila.

Baca Juga:  7 Tips Manajemen Waktu Agar Lebih Produktif

Hasil Penelitian Ahli

Para ahli saraf di dalam sebuah penelitian menjelaskan bahwa ada alasan penting kenapa kita mampu terus bertahan melalui skenario ketidakpastian dari suatu hasil usaha. Hasil yang tidak pasti dari suatu usaha ini akan disebut volatilitas hasil usaha.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam majalah Neuron edisi bulan Juli 2018 memperlihatkan bahwa ketekunan manusia dalam menghadapi volatilitas hasil usaha secara selintas tampaknya seperti tindakan yang tidak rasional.

“Menurut model pembelajaran yang baku, seseorang tidak akan mengulangi perilaku apa pun jika hasilnya negatif.

Namun ternyata ini bukan hasil yang kami temukan, ”kata Daeyeol Lee ahli syaraf dari Yale University. Seringkali, ketika seseorang memiliki tujuan, ia akan tetap bertahan bahkan setelah kegagalan muncul berulang-ulang.

Ternyata volatilitas hasil usaha akan mempengaruhi kapan ia akan terus bertahan untuk mencoba atau menyerah.

Meneliti Jaringan Syaraf Otak

Penelitian ini memberikan suatu ilustrasi tentang kemungkinan akan lebih bermanfaat bagi seseorang untuk memperlambat proses pembelajaran atau mengurangi tingkat aktifitas pembelajaran agar ia tetap mau terus berusaha menyelesaikan suatu masalah.

Tidak peduli seberapa pun kuatnya daya pikir otak seseorang, otak tetap memerlukan saat istirahat dari aktifitas belajar.

Penelitian telah menunjukkan bahwa jika otak seseorang dalam kondisi belajar terus menerus sepanjang waktu maka ia akan mudah menyerah ketika ia mengalami kegagalan.

Lee dan timnya mencoba mencari tahu apa sebetulnya yang terjadi di jaringan saraf otak seseorang ketika ia telah memutuskan untuk berhenti belajar.

Baca Juga:  VIDEO: Tips Mengelola Gaji Bulanan Untuk Millennial

Istirahat dan Pengalihan Aktivitas

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada perbedaan mendasar dalam aktivitas jaringan saraf otak seseorang ketika ia sedang belajar dan ketika ia tidak sedang belajar.

Aktivitas jaringan saraf otak seseorang terlihat berbeda ketika ia sedang beristirahat.

Hasil itu masih konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa proses pembelajaran berasal dari fungsi kognitif yang serupa dengan yang mendasari proses pengambilan keputusan.

Proses belajar seseorang yang terus menerus tanpa istirahat akan merugikannya. Jeda istirahat inilah yang memungkinkan ia mempunyai kembali kemauan untuk terus berusaha mencari solusi bagi permasalahan yang dihadapinya.

Jeda istirahat ini yang akan membuat ia tabah menghadapi volatilitas hasil usaha dan ia akan meneruskan kegilaannya.

Contoh Kegigihan Einstein

Fakta hobi musik Albert Einstein - ©cmuse.org
Fakta hobi musik Albert Einstein – ©cmuse.org

Contoh, bagi seorang Einstein jeda istirahat setelah ia berpikir secara intensif dilakukannya dengan memainkan biola atau pianonya. Setelah itu ia bisa meneruskan berpikir lagi untuk memecahkan suatu masalah. Proses itu terjadi secara berulang-ulang.

“Sebagai seorang gadis kecil,” istri Einstein yang kedua bernama Elsa pernah berkomentar, “Saya jatuh cinta dengan Albert Einstein karena dia memainkan karya Mozart dengan sangat indah pada biolanya. Dia juga memainkan piano.

Musik membantunya ketika dia memikirkan teorinya. Dia pergi ke ruang kerjanya, kembali, memainkan beberapa chord di piano, menuliskan sesuatu, kembali ke ruang kerjanya”.

Einstein menyukai musik karya Bach, Mozart dan Beethoven. Namun Einstein tidak menyukai musik karya Wagner dan Debussy karena struktur arsitektur dari musiknya tidak sesuai dengan selera Einstein.

Baca Juga:  Belajar Di Waktu Subuh Baik Sebelum Ujian. Benarkah?

Please rate this

Tinggalkan sebuah komentar

Sila masukan komentar Anda!
Silakan masukan nama Anda di sini